Be the Best of the Best

Bila Gagal ... ya, COBA LAGI!! Sampai kapan ? SAMPAI SUKSES

Be the Best of the Best

Pantang Menyerah

Be the Best of the Best

Prestasi bukanlah suatu kebetulan, dan Impian tidak akan pernah menjadi kenyataan tanpa kerja keras.

Be the Best of the Best

Bungkamlah mereka dengan kesuksesan anda

slider






Thursday, 5 May 2016

PERSEPSI SALAH SESEORANG MENGENAI BELAJAR SEBELUM MENGHADAPI UJIAN

             Salah satu hal yang menarik pada pelajar/mahasiswa adalah saat akan menghadapi ujian mereka tidak mau belajar dengan persepsi bahwa "Kalo aku belajar aku tidak akan dapat mengisi jawaban pada saat ujian, tetapi saat aku belajar aku juga gak bakalan dapat mengisi ujian, ya sudah deh lebih baik aku GAK USAH BELAJAR AJA" inilah persepsi seseorang yang banyak sekali terdapat pada pemuda-pemudi di indonesia .. karena mereka berfikir belajar atau tidaknya mereka saat ujian hasil mereka yang didapatkan akan sama hasilnya ...


             Apakah anda salah satu dari mereka ? atau pernah melakukannya saat anda masih sekolah atau kuliah ? hehe jujur saja kalo gue juga pernah kok berfikir dan melakukan hal yang sama tanpa berfikir terlebih dahulu dampak yang akan terjadi serta lebih buruknya lagi ikut-ikutan teman yang memperparah keadaan, nah disini saya akan membahas tentang persepsi seseorang yang berpikiran BELAJAR GAK BELAJAR SEBELUM UJIAN HASIL YANG AKAN DIDAPATKAN SAMA ...


             Nah ... siapa yang bisa menjawab pertanyaan diatas ? apakah hasil yang akan di dapatkan sama saat seseorang yang belajar dengan seseorang yang tidak belajar saat ujian ? tentu tidak karena apa ? karena seseorang yang memiliki ilmu bukan selamanya orang yang mendapat nilai yang baik atau bagus di kampus ... Karena saya mengatakan begitu ? karena saat ujian banyak sekali teman-teman anda yang menyontek atau berupaya agar hasil yang mereka dapatkan maksimal dengan upaya yang dimana bisa dikatakan bahwa dengan kebohongan di dalamnya ....


             Mungkin pernyataan saya begitu terbuka dan blak-blakan karena memang saya adalah satu dari seribu orang yang mendapatkan nilai jelek dengan belajar sekuat tenaga tetapi hasil yang di dapatkan gak seperti yang saya inginkan, sedangkan teman saya yang gak belajar sama sekali tetapi nilai dia melebihi nilai yang saya dapatkan ? Why ?




             Kenapa bisa kok nilai saya rendah dan teman saya mendapatkan nilai tinggi ? terus apa perasaan saya saat itu ? ya ... bisa dikatakan saya sangat sedih dan kecewa karena hasil yang saya harapkan tidak sesuai dan pernah saya berfikir untuk protes pada dosen saya dan niat yang sudah terlintas di pikiran saya lenyap dengan sekejap karena saya berfikir bahwa saya adalah mahasiswa yang perlu ILMU bukannya NILAI .. Menurut saya nilai yang saya dapatkan tidak penting, yang penting adalah ILMU ... kok nilai gak penting kak ? pasti kamu banyak yang protes tentang ini ? atau malah bingung ? heheheh ...

Nah ini penjelasannya : 
        
Ini adalah keuntungan dan dampak bagi yang mendapatkan nilai BAIK.
1. Dipuji guru : Tidak membawa keuntungan, mungkin jadi besar kepala
2. Diberi Hadiah / selamat oleh orang tua ; Hadiah/selamat bersifat menghibur , tidak mendukung.
3. Dikagumi teman-teman : Kalo nilai jatuh, kagum itu hilang
4. Mendapat hak pamer : Hanya selama nilai bisa dipertahankan.
5. Banyak mengikuti lomba : Dapat mengurangi efektifitas sekolah
6. Memperoleh kesempatan beasiswa : sibuk dengan beasiswa itu
7. Dibangggakan sekolah : kalo melakukan kesalahan, sekolah malu
8. Dicari oleh teman bila kesulitan : hanya sementara

Ini adalah keuntungan dan dampaknya bagi yang mendapatkan nilai BURUK.
1. Dianggap bodoh : hanya mengurangi semangat belajar, tidak menambah. 
2. Disuruh ikut les / tambahan pelajaran : Nggak tahu ya, itu buat orang lelah ?
3. Malu kepada teman : teman-teman juga akan mengerti kok.
4. Dimarahi guru : menjauhkan murid dari guru.
5. Dituduh pemalas : merasa dirinya malas dan benar-benar menjadi malas.
6. Dikejar-kejar remedial : dituduh belum mengerti, padahal belum tentu.
7. Dikurangi waktu santainya : makin menambah stress
8. Dipaksa belajar : Dia stressnya kian bertumpuk.

Itu menurut gue keuntungan bagi seorang yang mendapatkan nilai baik maupun buruk serta dampaknya ... ya menurut gue begitu karena bukan disini saya menganjurkan anda mendapatkan nilai yang buruk tetapi disini saya akan membuat teman-teman menjadi lebih cerdas dalam memutuskan dan memberikan wawasan kepada kamu agar lebih mengerti setelah membaca artikel ini. 

Kak, jadi kesimpulannnya apa donk ?

               Nah, teman-teman sudah tau bahwa teman-teman boleh mendapatkan nilai yang bagus tetapi apakah nilai yang teman-teman dapatkan hasil dari kerja keras teman-teman atau hasil dari orang lain (menyontek) ... 
                   Nah tanyakan lagi pada diri teman-teman sehingga saat teman-teman mendapatkan hasil yang kurang maksimal tetapi teman-teman harus bangga dengan hasil itu ? kenapa ? karena hasil teman-teman sendiri adalah dengan dasar KEJUJURAN .. kejujuran adalah kunci utama kesuksesan, mulai dari kejujuran kita bisa tau kualitas diri kita dimana dan sejauh mana ? Jadi gak perlu khawatir kalo teman-teman yang mendapatkan nilai jelek tetapi teman-teman bisa tau dan terus evaluasi diri teman-teman agar peningkatan yang dialami menjadi suatu motivasi untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik ... 



               Perlu teman-teman tau bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibagikan kepada orang lain, sehingga ilmu teman-teman menjadi lebih bermanfaat dan pasti ALLAH SWT akan menambah lagi bagi siapa yang mau berbagi ilmu yang mereka punyai. Nah ... Ilmu jika hanya untuk nilai sebaiknya JANGAN karena ilmu saat teman-teman dapatkan di sekolah maupun dikampus akan lebih bermanfaat jika teman-teman mengerti dan memahaminya sehingga insyallah nanti nilai pun akan mengikuti kamu dengan hasil yang maksimal, serta kamu gak perlu khawatir dengan nilai .. karena nilai akan mengejarmu tanpa kamu sadari ... 



                            KEJUJURAN ADALAH KUNCI KESUKSESAN ....
          BERBAGI ILMU ADALAH HAL YANG MEMBUAT ORANG MENJADI LEBIH                          BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN DAN AKAN MENDAPATKAN ILMU BARU             SETIAP ILMU YANG TELAH DIBAGIKANNYA KEPADA ORANG LAIN


             

Monday, 2 May 2016

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN

BAB II
PEMBAHASAN



2.1 Pengertian

Berkurangnya Pendengaran adalah penurunan fungsi pendengaran pada salah satu ataupun kedua telinga. Tuli adalah penurunan fungsi pendengaran yang sangat berat.
Presbikusis merupakan akibat dari proses degeneratif pada satu atau beberapa bagian koklea (striae vaskularis, sel rambut, dan membran basi la ris) maupun serabut saraf auditori. Presbikusis ini juga merupakan hasil interaksi antara faktor genetik individu dengan faktor eksternal, seperti pajanan suara berisik terus-menerus, obat ototoksik, dan penyakit sistemik.
Presbikusis terbagi dua menjadi prebiskus perifer dan prebiskus sentral. Presbikusis perifer, di mana para lansia hanya mampu untuk mengidentifikasi kata. Alat Bantu dengar masih cukup bermanfaat, tetapi harus diperhatikan untuk menghindari berteriak/berbicara terlalu keras karena dapat membuat ketidaknyamanan di telinga. Presbikusis sentral, di mana lansia mengalami gangguan untuk mengidentifikasi kalimat, sehingga manfaat alat bantu dengar sangat kurang. Oleh karena itu, percakapan dengan para lansia harus sedikit lebih lambat tanpa mengabaikan irama dan intonasi.
Presbikusis ditambah dengan situasi ketika percakapan yang berlangsung kurang mendukung dapat menyebabkan lansia mengalami gangguan komunikasi. Gangguan komunikasi ini dapat terjadi akibat : pertama pembicaraan mengalami gangguan karena suara music, radio, televise, maupun pembicaraan lainnya. Kedua: sumber suara mengalami distorsi yang berasal dari pengeras suara yang tidak sempurna seperti di terminal, masjid, telepon, maupun bila diucapkan oleh anak-anak atau pembicara terlalu cepat. Ketiga: kondisi akustik ruangan yang tidak sempurna seperti didapur, ruang makanrestoran, serta ruang pertemuan yang mudah memantulkan suara.

2.2 Penyebab

Penurunan fungsi pendengaran bisa disebabkan oleh:
·         Suatu masalah mekanis di dalam saluran telinga atau di dalam telinga tengah yang menghalangi penghantaran suara (penurunan fungsi pendengaran konduktif).
·         Kerusakan pada telinga dalam, saraf pendengaran atau jalur saraf pendengaran di otak (penurunan fungsi pendengaran sensorineural).
Penurunan fungsi pendengaran sensorineural dikelompokkan lagi menjadi:
·         Penurunan fungsi pendengaran sensorik (jika kelainannya terletak pada telinga dalam)
·         Penurunan fungsi pendengaran neural (jika kelainannya terletak pada saraf pendengaran atau jalur saraf pendengaran di otak).
Penurunan fungsi pendengaran sensorik bisa merupakan penyakit keturunan, tetapi mungkin juga disebabkan oleh:
·         Trauma akustik (suara yang sangat keras)
·         Infeksi virus pada telinga dalam
·         Obat-obatan tertentu
·         Penyakit Meniere.
Penurunan fungsi pendengaran neural bisa disebabkan oleh:
·         Tumor otak yang juga menyebabkan kerusakan pada saraf-saraf di sekitarnya dan batang otak
·         Infeksi
·         Berbagai penyakit otak dan saraf (misalnya stroke) - Beberapa penyakit keturunan (misalnya penyakit Refsum).

2.3 Gejala

Penderita penurunan fungsi pendengaran bisa mengalami beberapa atau seluruh gejala berikut:
·         kesulitan dalam mendengarkan percakapan, terutama jika di sekelilingnya berisik terdengar gemuruh atau suara berdenging di telinga (tinnitus)
·         Tidak dapat mendengarkan suara televisi atau radio dengan volume yang normal
·         Kelelahan dan iritasi karena penderita berusaha keras untuk bisa mendengar
·         pusing atau gangguan keseimbangan.


2.4 Epidemiologi

Gangguan pendengaran adalah kondisi kronis yang paling umum ketiga di negara Amerika Serikat dan merupakan nomor satu dalam gangguan komunikasi dari usia antara 25-40% dari penduduk berusia 65 tahun atau lebih tua, dan tuna rungu (19,20). Prevalensi presbikus meningkat seiring bertambahnya usia, mulai dari 40% sampai 60% pada lansia berusia 75 tahun dan lebih dari 80% pada pasien berusia 85 tahun (2009)

2.5 Anatomi Fisiologi

Telinga sebagai organ pendengaran dan ekuilibrium terbagi dalam tiga bagian, yaitu telinga luar, tengah, dan dalam. Telinga berisi reseptor-reseptor yang menghantarkan gelombang suara ke dalam impuls-impuls saraf dan reseptor yang berespons pada gerakan kepala.


Perubahan pada telinga luar sehubungan dengan proses penuaan adalah kulit telinga berkurang elastisitasnya. Daerah lobus yang merupakan satu-satunya bagian yang tidak disokong oleh kartilago mengalami pengeripu tan, aurikel tampak lebih besar, dan tragus sering ditutupi oleh rumbai-rumbai rambut yang kasar. Saluran auditorius menjadi dangkal akibat lipatan ke dalam, pada dindingnya silia menjadi lebih kaku dan kasar juga produksi serumen agak berkurang dan cenderung menjadi lebih kering.
Perubahan atrofi telinga tengah, khususnya membran timpani karena proses penuaan tidak mempunyai pengaruh jelas pada pendengaran. Perubahan yang tampak pada telinga dalam adalah koklea yang berisi organ corti sebagai unit fungsional pendengaran mengalami penurunan sehingga mengakibatkan presbikusis.
Lebih kurang 40% dari populasi lansia mengalami gangguan pendengaran (presbikusis). Gangguan pendengaran mulai dari derajat ringan sampai berat dapat dipantau dengan menggunakan alat audiometer. Pada umumnya laki-laki lebih sering menderita gangguan pendengaran dibandingkan perempuan.
Presbikusis merupakan akibat dari proses degeneratif pada satu atau beberapa bagian koklea (striae vaskularis, sel rambut, dan membran basi la ris) maupun serabut saraf auditori. Presbikusis ini juga merupakan hasil interaksi antara faktor genetik individu dengan faktor eksternal, seperti pajanan suara berisik terus-menerus, obat ototoksik, dan penyakit sistemik.
Presbikusis terbagi dua menjadi prebiskus perifer dan prebiskus sentral. Presbikusis perifer, di mana para lansia hanya mampu untuk mengidentifikasi kata. Alat Bantu dengar masih cukup bermanfaat, tetapi harus diperhatikan untuk menghindari berteriak/berbicara terlalu keras karena dapat membuat ketidaknyamanan di telinga. Presbikusis sentral, di mana lansia mengalami gangguan untuk mengidentifikasi kalimat, sehingga manfaat alat bantu dengar sangat kurang. Oleh karena itu, percakapan dengan para lansia harus sedikit lebih lambat tanpa mengabaikan irama dan intonasi.
Presbikusis ditambah dengan situasi ketika percakapan yang berlangsung kurang mendukung dapat menyebabkan lansia mengalami gangguan komunikasi. Gangguan komunikasi ini dapat terjadi akibat:
Pertama, pembicaraan mengalami gangguan karena suara musik, radio, televisi, maupun pembicaraan lain.
Kedua, sumber suara mengalami distorsi yang berasal dari pengeras suara yang tidak sempurna seperti di terminal, masjid, telepon, maupun bila diucapkan oleh anak-anak atau pembicara yang terlalu cepat.
Ketiga, kondisi akustik ruangan yang tidak sempurna seperti di dapur, ruang makan restoran, serta ruang pertemuan yang mudah memantulkan suara.




2.6 Patofisiologi
Menurut frekuensi getarannya, tinnitus terbagi menjadi dua macam, yaitu:
·         Tinnitus Frekuensi rendah (low tone) seperti bergemuruh
·         Tinnitus frekuensi tinggi (high tone)seperti berdenging
Tinnitus biasanya di hubungkan dengan tuli sensorineural dan dapat juga terjadi karena gangguan konduksi, yang biasanya berupa bunyi dengan nada rendah. Jika di sertai dengan inflamasi, bunyi dengung akan terasa berdenyut (tinnitus pulsasi) dan biasanya terjadi pada sumbatan liang telinga, tumor, otitis media, dll.
Pada tuli sensorineural, biasanya timbul tinnitus subjektif nada tinggi (4000Hz). Terjadi dalam rongga telinga dalam ketika gelombang suara berenergi tinggi merambat melalui cairan telinga, merangsang dan membunuh sel-sel rambut pendengaran maka telinga tidak dapat berespon lagi terhadap frekuensi suara. Namun jika suara keras tersebut hanya merusak sel-sel rambut tadi maka akan terjadi tinnitus, yaitu dengungan keras pada telinga yang di alami oleh penerita.(penatalaksanaan penyakit dan kelainan THT edisi 2 thn 2000 hal 100). Susunan telinga kita terdiri atas liang telinga, gendang telinga, tulang-tulang pendengaran, dan rumah siput. Ketika terjadi bising dengan suara yang melebihi ambang batas, telinga dapat berdenging, suara berdenging itu akibat rambut getar yang ada di dalam rumah siput tidak bisa berhenti bergetar. Kemudian getaran itu di terima saraf pendengaran dan diteruskan ke otak yang merespon dengan timbulnya denging.
Kepekaan setiap orang terhadap bising berbeda-beda, tetapi hampir setiap orang akan mengalami ketulian jika telinganya mengalami bising dalam waktu yag cukup lama. Setiap bising yang berkekuatan 85dB bisa menyebabkan kerusakan. Oleh karena itu di Indonesia telah di tetapkan nilai ambang batas yangn di perbolehkan dalam bidang industri yaitu sebesar 89dB untuk jangka waktu maksimal 8 jam. Tetapi memang implementasinya belum merata. Makin tinggi paparan bising, makin berkurang paparan waktu yang aman bagi telinga.





2.7 Pathway



                       



 






2.8 Pemeriksaan
                         1.      Pemeriksaan Dengan Garputala
                          
           
Pada dewasa, pendengaran melalui hantaran udara dinilai dengan menempatkan garputala yang telah digetarkan di dekat telinga sehingga suara harus melewati udara agar sampai ke telinga.
Penurunan fungsi pendengaran atau ambang pendengaran subnormal bisa menunjukkan adanya kelainan pada saluran telinga, telinga tengah, telinga dalam, sarat pendengaran atau jalur saraf pendengaran di otak.
Pada dewasa, pendengaran melalui hantaran tulang dinilai dengan menempatkan ujung pegangan garputala yang telah digetarkan pada prosesus mastoideus (tulang yang menonjol di belakang telinga).
Getaran akan diteruskan ke seluruh tulang tengkorak, termasuk tulang koklea di telinga dalam. Koklea mengandung sel-sel rambut yang merubah getaran menjadi gelombang saraf, yang selanjutnya akan berjalan di sepanjang saraf pendengaran.
Pemeriksaan ini hanya menilai telinga dalam, saraf pendengaran dan jalur saraf pendengaran di otak. Jika pendengaran melalui hantaran udara menurun, tetapi pendengaran melalui hantaran tulang normal, dikatakan terjadi tuli konduktif.
Jika pendengaran melalui hantaran udara dan tulang menurun, maka terjadi tuli sensorineural. Kadang pada seorang penderita, tuli konduktif dan sensorineural terjadi secara bersamaan.


2.      Audiometri




Audiometri dapat mengukur penurunan fungsi pendengaran secara tepat, yaitu dengan menggunakan suatu alat elektronik (audiometer) yang menghasilkan suara dengan ketinggian dan volume tertentu.
Ambang pendengaran untuk serangkaian nada ditentukan dengan mengurangi volume dari setiap nada sehingga penderita tidak lagi dapat mendengarnya.
Telinga kiri dan telinga kanan diperiksa secara terpisah.
Untuk mengukur pendengaran melalui hantaran udara digunakan earphone, sedangkan untuk mengukur pendengaran melalui hantaran tulang digunakan sebuah alat yang digetarkan, yang kemudian diletakkan pada prosesus mastoideus.

3.      Audimetri Ambang Bicara



Audiometri ambang bicara mengukur seberapa keras suara harus diucapkan supaya bisa dimengerti.
Kepada penderita diperdengarkan kata-kata yang terdiri dari 2 suku kata yang memiliki aksentuasi yang sama, pada volume tertentu.
Dilakukan perekaman terhadap volume dimana penderita dapat mengulang separuh kata-kata yang diucapkan dengan benar.

4.      Diskriminasi




Dengan diskriminasi dilakukan penilaian terhadap kemampuan untuk membedakan kata-kata yang bunyinya hampir sama. Digunakan kata-kata yang terdiri dari 1 suku kata, yang bunyinya hampir sama.
Pada tuli konduktif, nilai diskriminasi (persentasi kata-kata yang diulang dengan benar) biasanya berada dalam batas normal. Pada tuli sensori, nilai diskriminasi berada di bawah normal. Pada tuli neural, nilai diskriminasi berada jauh di bawah normal.

5.      Timpanometri




Timpanometri merupakan sejenis audiometri, yang mengukur impedansi (tahanan terhadap tekanan) pada telinga tengah. Timpanometri digunakan untuk membantu menentukan penyebab dari tuli konduktif.
Prosedur in tidak memerlukan partisipasi aktif dari penderita dan biasanya digunakan pada anak-anak. Timpanometer terdiri dari sebuah mikrofon dan sebuah sumber suara yang terus menerus menghasilkan suara dan dipasang di saluran telinga.
Dengan alat ini bisa diketahui berapa banyak suara yang melalui telinga tengah dan berapa banyak suara yang dipantulkan kembali sebagai perubahan tekanan di saluran telinga.
Hasil pemeriksaan menunjukkan apakah masalahnya berupa:
·         penyumbatan tuba eustakius (saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan hidung bagian belakang)
·         cairan di dalam telinga tengah
·         kelainan pada rantai ketiga tulang pendengaran yang menghantarkan suara melalui telinga tengah.
Timpanometri juga bisa menunjukkan adanya perubahan pada kontraksi otot stapedius, yang melekat pada tulang stapes (salah satu tulang pendengaran di telinga tengah).
Dalam keadaan normal, otot ini memberikan respon terhadap suara-suara yang keras/gaduh (refleks akustik) sehingga mengurangi penghantaran suara dan melindungi telinga tengah.
Jika terjadi penurunan fungsi pendengaran neural, maka refleks akustik akan berubah atau menjadi lambat. Dengan refleks yang lambat, otot stapedius tidak dapat tetap berkontraksi selama telinga menerima suara yang gaduh.

6.      Respon Auditoris Batang Otak
   



Pemeriksaan ini mengukur gelombang saraf di otak yang timbul akibat rangsangan pada saraf pendengaran. Respon auditoris batang otak juga dapat digunakan untuk memantau fungsi otak tertentu pada penderita koma atau penderita yang menjalani pembedahan otak.

7.      Elektrokokleografi



Elektrokokleografi digunakan untuk mengukur aktivitas koklea dan saraf pendengaran. Kadang pemeriksaan ini bisa membantu menentukan penyebab dari penurunan fungsi pendengaran sensorineural. Elektrokokleografi dan respon auditoris batang otak bisa digunakan untuk menilai pendengaran pada penderita yang tidak dapat atau tidak mau memberikan respon bawah sadar terhadap suara. Misalnya untuk mengetahui ketulian pada anak-anak dan bayi atau untuk memeriksa hipakusis psikogenik (orang yang berpura-pura tuli).
Beberapa pemeriskaan pendengaran bisa mengetahui adanya kelainan pada daerah yang mengolah pendengaran di otak. Pemeriksaan tersebut mengukur kemampuan untuk:
·         mengartikan dan memahami percakapan yang dikacaukan
·         memahami pesan yang disampaikan ke telinga kanan pada saat telinga kiri menerima pesan yang lain
·         menggabungkan pesan yang tidak lengkap yang disampaikan pada kedua telinga menjadi pesan yang bermakna
·         menentukan sumber suara pada saat suara diperdengarkan di kedua telinga pada waktu yang bersamaan.
Jalur saraf dari setiap telinga menyilang ke sisi otak yang berlawanan, karena itu kelainan pada otak kanan akan mempengaruhi pendengaran pada telinga kiri.
Kelainan pada batang otak bisa mempengaruhi kemampuan dalam menggabungkan pesan yang tidak lengkap menjadi pesan yang bermakna dan dalam menentukan sumber suara.

2.9 Pengobatan
Pengobatan untuk penurunan fungsi pendengaran tergantung kepada penyebabnya. Jika penurunan fungsi pendengaran konduktif disebabkan oleh adanya cairan di telinga tengah atau kotoran di saluran telinga, maka dilakukan pembuangan cairan dan kotoran tersebut.  Jika penyebabnya tidak dapat diatasi, maka digunakan alat bantu dengar atau kadang dilakukan pencangkokan koklea.

2.10 Alat Bantu Dengar
Alat bantu dengar merupakan suatu alat elektronik yang dioperasikan dengan batere, yang berfungsi memperkuat dan merubah suara sehingga komunikasi bisa berjalan dengan lancar.
Alat bantu dengar terdiri dari:
·         Sebuah mikrofon untuk menangkap suara
·         Sebuah amplifier untuk meningkatkan volume suara
·         Sebuah speaker utnuk menghantarkan suara yang volumenya telah dinaikkan.

Berdasarkan hasil tes fungsi pendengaran, seorang audiologis bisa menentukan apakah penderita sudah memerlukan alat bantu dengar atau belum (audiologis adalah seorang profesional kesehatan yang ahli dalam mengenali dan menentukan beratnya gangguan fungsi pendengaran).
\
Alat bantu dengar sangat membantu proses pendengaran dan pemahaman percakapan pada penderita penurunan fungsi pendengaran sensorineural. Dalam menentukan suatu alat bantu dengar, seorang audiologis biasanya akan mempertimbangkan hal-hal berikut:
·         kemampuan mendengar penderita
·         aktivitas di rumah maupun di tempat bekerja
·         keterbatasan fisik
·         keadaan medis
·         penampilan
·         harga.


Alat Bantu Dengar Hantaran Udara
Alat ini paling banyak digunakan, biasanya dipasang di dalam saluran telinga dengan sebuah penutup kedap udara atau sebuah selang kecil yang terbuka.

Alat Bantu Dengar Yang Dipasang Di Badan
            


Digunakan pada penderita tuli dan merupakan alat bantu dengar yang paling kuat. Alat ini disimpan dalam saku kemeja atau celana dan dihubungkan dengan sebuah kabel ke alat yang dipasang di saluran telinga. Alat ini seringkali dipakai oleh bayi dan anak-anak karena pemakaiannya lebih mudah dan tidak mudah rusak.

Alat Bantu Dengar Yang Dipasang Di Belakang Telinga



Digunakan untuk penderita gangguan fungsi pendengaran sedang sampai berat. Alat ini dipasang di belakang telinga dan relatif tidak terlihat oleh orang lain.

CROS (contralateral routing of signals)
         



Alat ini digunakan oleh penderita yang hanya mengalami gangguan fungsi pendengaran pada salah satu telinganya.
Mikrofon dipasang pada telinga yang tidak berfungsi dan suaranya diarahkan kepada telinga yang berfungsi melalui sebuah kabel atau sebuah transmiter radio berukuran mini. Dengan alat ini, penderita dapat mendengarkan suara dari sisi telinga yang tidak berfungsi.

BICROS (bilateral CROS)



Jika telinga yang masih berfungsi juga mengalami penuruna fungsi pendengaran yang ringan, maka suara dari kedua telinga bisa diperkeras dengan alat ini.



Alat Bantu Dengar Hantaran Tulang


Alat ini digunakan oleh penderita yang tidak dapat memakai alat bantu dengar hantaran udara, misalnya penderita yang terlahir tanpa saluran telinga atau jika dari telinganya keluar cairan (otore).
Alat ini dipasang di kepala, biasanya di belakang telinga dengan bantuan sebuah pita elastis. Suara dihantarkan melalui tulang tengkorak ke telinga dalam.
Beberapa alat bantu dengar hantaran tulang bisa ditanamkan pada tulang di belakang telinga.

2.11 Pencangkokan Koklea
Pencangkokan koklea (implan koklea) dilakukan pada penderita tuli berat yang tidak dapat mendengar meskipun telah menggunakan alat bantu dengar.
Alat ini dicangkokkan di bawah kulit di belakang telinga dan terdiri dari 4 bagian:
·         Sebuah mikrofon untuk menangkap suara dari sekitar
·         Sebuah prosesor percakapan yang berfungsi memilih dan mengubah suara yang tertangkap oleh mikrofon
·         Sebuah transmiter dan stimulator/penerima yang berfungsi menerima sinyal dari prosesor percakapan dan merubahnya menjadi gelombang listrik
·         Elektroda, berfungsi mengumpulkan gelombang dari stimulator dan mengirimnya ke otak.
Suatu implan tidak mengembalikan ataupun menciptakan fungsi pendengaran yang normal, tetapi bisa memberikan pemahaman auditoris kepada penderita tuli dan membantu mereka dalam memahami percakapan.

Implan koklea sangat berbeda dengan alat bantu dengar.
Alat bantu dengar berfungsi memperkeras suara. Implan koklea menggantikan fungsi dari bagian telinga dalam yang mengalami kerusakan.
Jika fungsi pendengaran normal, gelombang suara diubah menjadi gelombang listrik oleh telinga dalam. Gelombang listrik ini lalu dikirim ke otak dan kita menerimanya sebagai suara.
Implan koklea bekerja dengan cara yang sama. Secara elektronik, implan koklea menemukan bunyi yang berarti dan kemudian mengirimnya ke otak

2.12 Penatalaksanaan
Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Pendengaran Lansia
a.       Bersihkan telinga, pertahankan komunikasi.
b.      Berbicara pada telinga yang masih baik dengan suara yang tidak terlalu keras.
c.       Berbicara secara perlahan-lahan, jelas, dan tidak terlalu panjang.
d.      Beri kesempatan klien untuk menjawab pertanyaan.
e.       Gunakan sikap dan gerakan atau objek untuk memudahkan persepsi klien.
f.       Beri sentuhan untuk menarik perhatian sebelum memulai pembicaraan.
g.      Beri motivasi dan reinforcement.
h.      Kolaborasi untuk menggunakan alat bantu pendengaran.
i.        Lakukan pemeriksaan secara berkala.










BAB III
ASUHAN KEPERWATAN


A. Pengkajian

§  Fokus pengkajian pada klien dengan ganguan pendengaran
§  Kaji identitas klien
§  Kaji riwayat keperawatan
§  Kaji adanya penguanaan obat-obat yang menyebabkan ototoxic dan merusak ssp serta organ-organ bagian telinga dan keseimbanagan
§  Kaji riwayat penguanaan obat-obatan

B. Diagnosa keperawatan

a)      Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan degenerasi tulang pendengaran bagian dalam.
b)      Harga diri rendah berhubungan dengan penurunan fungsi pendengaran.
c)      Kurang aktivitas berhubungan dengan menarik diri dengan lingkungan.

C. Intervensi keperawatan

a)      Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan degenerasi tulang pendengaran bagian dalam
Tujuan : komunikasi verbal klien berjalan dengan baik
Kriteria Hasil
Dalam 1 hari klien dapat :
-          Menerima pesan melalui metode alternatif
-          Mengerti apa yang diungkapkan
-          Memperlihatkan suatu peningkatan kemampuan untuk berkomunikasi
-          Menggunakan alat bantu dengar dengan cara yang tepat
Intervensi :
a.       Kaji tingkat kemampuan klien dalam penerimaan pesan
b.      Periksa apakah ada serumen yang mengganggu pendengaran
c.       Bicara dengan pelan dan jelas
d.      Gunakan alat tulis pada waktu menyampaikan pesan
e.       Beri dan ajarkan klien pada penggunaan alat bantu dengar
f.       Pastikan alat bantu dengar dapat berfungsi dengan baik
g.      Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan telinga

b)      Harga diri rendah berhubungan dengan penurunan fungsi pendengaran.
Tujuan : klien dapat menerima keadaan dirinya
Kriteria Hasil
Secara bertahap klien dapat :
-          Mengenal perasaan yang menyebabkan perilaku menarik diri
-          Berhubungan sosial dengan orang lain
-          Mendapat dukungan keluarga mengembangkan kemampuan klien untuk berhubungan dengan orang lain
-          Membina hubungan saling percaya dengan perawat
Intervensi :
a.       Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya.
b.      Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab klien tidak mau bergaul atau menarik diri
c.       Diskusi bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta penyebab yang mungkin
d.      Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaan
e.       Diskusikan tentang keuntungan dari berhubungan dan kerugian dari perilaku menarik diri
f.       Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain
g.      Beri pujian atas keberhasilan yang telah dicapai klien
h.      Bina hubungan saling percaya dengan klien
i.        Anjurkan anggota keluarga untuk secar rutin dan bergantian mengunjungi klien
j.        Beri reinforcement positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga
k.      Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip hubungan terpeutik



c)      Kurang aktivitas berhubungan dengan menarik diri dengan lingkungan.
Tujuan : klien dapat melakukan aktivitas tanpa kesulitan
Kriteria Hasil
Secara bertahap klien dapat :
-          Menceritakan perasaan-perasaan bosan
-          Melaporkan adanya peningkatan dalam aktivitas yang menyenangkan.
-          Menceritakan metode koping terhadap perasaan marah atau depresi yang disebabkan oleh kebosanan.
Intervensi :
a.       Beri motivasi untuk dapat saling berbagi perasaan dan pengalaman
b.      Bantu klien untuk mengatasi perasaan marah dari berduka
c.       Variasikan rutinitas sehari-hari
d.      Libatkkan individu dalam merencanakan rutinitas sehari-hari
e.       Rencanakan suatu aktivitas sehari-hari
f.       Beri alat bantu dengar dalam melakukan aktivitas





BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

          Presbikusis merupakan akibat dari proses degeneratif pada satu atau beberapa bagian koklea (striae vaskularis, sel rambut, dan membran basi la ris) maupun serabut saraf auditori. Presbikusis ini juga merupakan hasil interaksi antara faktor genetik individu dengan faktor eksternal, seperti pajanan suara berisik terus-menerus, obat ototoksik, dan penyakit sistemik.
Penurunan fungsi pendengaran bisa disebabkan oleh:
·         Suatu masalah mekanis di dalam saluran telinga atau di dalam telinga tengah yang menghalangi penghantaran suara (penurunan fungsi pendengaran konduktif).
·         Kerusakan pada telinga dalam, saraf pendengaran atau jalur saraf pendengaran di otak (penurunan fungsi pendengaran sensorineural).

4.2 Saran

Diharapkan kepada perawat lebih paham pada asuhan keperawatan lansia , Sehingga dapat mengetahui tentang pengertian, penyebab, gejala, penatalaksanaan, dan pencegahan terhadap gangguan pendengaran pada lansia.

                 




                                           DAFTAR PUSTAKA

Roach sally. Introduktory gerontological Nursing. 2001. Lippinctt: New Yor

Syaifuddin, Anatomi fisisologi. 1997. EGC. Jakarta

Petunjuk praktikum fisiologi I. Tim pengajar fisiologi. 2005. Stikes Aisyiyah Yogyakarta,

Http: // www.pfizer peduli . com / artcel _ detail . aspex. Id : 21

Panduan dianosa keperawatan NANDA

Http: // www. Dokter tetanus . pjnkk. Go. Id / content . view / 249/31

http: // www. Dokter tetanus. WordPress. Com

wahyudi, Nugroho, Keperawatan Gerontik. 2000. EGC : Jakarta.